tuktuktuk...Suara langkah kaki ku menuruni anak tangga degan tergesah-gesah,seperti biasa menghiasi suara-suara di rumahku yang memang sedang sibuk memulai aktivitas di pagi hari. Mama seperti biasa membantu adikku si bontot yang susah bangun, menyiapkan segala macam keperluan sekolahnya. Ayah ku yang sedari tadi asik membaca koran pagi dengan cara memakai kaca matanya yang unik -hingga nampak seperti paman gober- terusik melihat tingkahku,「座りながらちゃんと食べなさい!」(makannya yang bener sambil duduk) ucapnya sambil menatap ku.
「もう六時半、ワワン先生の授業だよ!遅刻したら入れない~」(udah setengah tujuh nie pah, kuliahnya Wawan sensei, klo telat ga boleh masuk), jawabku yang mencari pembenaran.
"Siapa suruh di bangunin susah, kamernya udah diberesin belum? tuh buku2nya juga." ini omelan mama ku yang sudah tak asing lagi -hanpir setiap hari- ku dengar.
"iya, udah mah, kasurnya." jawab ku asal.
Segera ku telan sepotong roti yang telah disiapkan mama, tak lupa segelas susu coklat hangat kesukaanku. Harus minum susu yang banyak biar gemuk! Hihihi..
Sudah kurang lebih satu semester ini aku meninggalkan Russian Blue si tunggangan sejatiku. Nampaknya udara kotor jalan raya kurang cocok denganku. Hanya sesekali saja ku pakai jika uang saku ku tak cukup banyak untuk membayar ongkos angkutan umum yang semakin mahal saja.
Sebagai mahasiswa aku terbilang enak. Tak perlu kost, jarak rumah jika ditempuh dengan kendaraan pribadi hanya sekitar lima belas menit. Ayahku adalah dosenku. Haha, ya aku kuliah dimana tempat ayahku mengajar. Pulang pergi kuliah aku diantar ayahku. Nyaman dengan mobil, yak perlu menghirup udara kotor jalan raya!
Mahasiswa, apa yang ada di benak kalian ketika mendengar kata itu? Kata guruku di SMA dan dosen-dosenku, Mahasiswa adalah siswa yang istimewa, pelajar yang istimewa! Lihat saja kata “MAHA” yang tertera sebelum kata “siswa” itu, nampak sangat istimewa bukan? Ya mengingat umur kami para mahasiswa yang sudah dewasa dan seharusnya memang memiliki pemikiran yang dewasa juga, belajar seharusnya sudah menjadi sebuah kebutuhan untuk menghadapi dunia masyarakat.
Tapi, lihatlah ini kawan, Pagi ini kuliah seharusnya dimulai pukul tujuh pagi, bahkan aku sempat sedikit berlari menuju kelas karena takut terlambat mengikuti kuliah. Meski kelasku dikatakan kelas “si unggul” tapi, walau jarum-jarum jam tanganku telah menunjukan pukul tujuh kurang lima menit, tak sampai sepuluh orang yang telah hadir di kelas. Sisanya, baru akan berbondong-bondong datang pukul tujuh lewat lima sampai sepuluh menit dengan alasan kena macet, padahal sebagian besar dari mereka adalah mahasiswa kos-kosan yang tentunya takkan terpengaruh dengan kemacetan lalu lintas. Katanya, “mahasiswa harus pintar (berbohong)”.
Usai kuliah pagi, seperti biasa aku dan teman-teman (gank) ku melakukan kuliah tambahan. Begitulah istilah kami, jangan kau bayangkan ini adalah kuliah yang benar-benar kuliah kawan! Kami menyebutnya kuliah tambahan mata kuliah “gosip” di ruang kelas “kopma” dengan bobot “lima sks”. Luar biasa bukan? Mari kukenalkan para mahasiswa yang mengontrak mata kuliah ini.
Yang pertama adalah Novi, mahasiswa pecinta uang. Uang adalah hidupnya dan hidupnya adalah uang. Profesi sampingannya adalah sebagai penjual pulsa berjalan, kata-kata favoritnya adalah, “bayar pulsa ga lo!!”, tentunya dengan tatapan penuh ancaman. Kemudian kau tahu Mr. Crabb? Ya, salah satu karakter kikir dalam serial kartun Spongebob Square Pants itu adalah pujaannya, terkadang Novi akan terlihat terpesona ketika menonton aksi Mr. Crabb di TV, bahkan ia akan sesekali mengangguk-anggukan ketika Mr. Crabb melakukan aksi super kikirnya. Tapi seperti Novi ini ternyata cukup menarik perhatian temanku yang sering mengaku sebagai kuda. Sudah sekitar lima bulan Nugraha si kuda menjalin hubungan dengan Novi. Tapi tentu saja cinta sejati Novi tetap lah uang, kalau temannya saja rela ia tukar dengau uang, tentu saja si Kuda ini pun harus bersiap-siap untuk di gadaikan..hahaha, tidak kawan, tentu aku haya bercanda!
Yang disamping Novi adalah Julie, dengan tubuhnya yang memang cukup gempal tak membuat ia kehilangan sosok manisnya. Julie adalah tipe mahasiswi yang menjadi fans sebuah boyband asal negri gingseng. Ya seperti gadis lainnya yang menjadi fans artis tertentu, mulai dari kaos yang ia pakai, gantungan kunci, gantungan handpone, pin, bros, buku catatan, pinsil, tempat pinsil, isi handpone, isi laptop, isi kosan, pokonya semua-muanya hanya akan mengenai boyband favoritnya itu. Julie adalah tipe yang akan rela merogoh koceknya dalam-dalah, ah tidak, bahkan terlalu dalam untuk dapat menjadi fans sejati boyband pujaannya itu.
Kini sedikit menyebrang di depan ku, dia sosok yang selalu terlihat mengantuk. Nisa namanya, entah mengapa dia selalu menguap, disaat ada kesempatan Nisa selalu menyempatkan diri untuk sedikit berkelana ke alam bawah sadarnya. Kekasihnya adalah sebuah bantal kecil yang ia bawa kmana pun ia pergi. Entah aku harus menggolongkan dirinya ke golongan mahasiswa yang mana. Sebab, mahasiswa yang membawa bantal kemanapun ia pergi barulah Nisa yang kutemukan, heum..mungkin dia termasuk ke dalam spesies langka yang perlu dilestarikan.xixixixixi..
Jika ada Nisa yang memiliki kekasih sebuah bantal kecil yang selalu ia bawa kemanapun ia pergi, maka ada pula sosok Tiwi yang memiliki kekasih sesosok laptop yang selalu tampak mesra dengannya. Tiwi adalah korban salah pilih jurusan. Ia memang mendambakan jurusan ilmu komputer atau teknologi informatika, namun apa boleh dikata, universitas gajah duduk yang didambakannya itu kursinya telah sould out diborong siswa SMA genius dari berbagai penjuru negeri, dan Tiwi tak diijinkan membawa kursi sendiri dari rumah jika alasannya kursi yang disediakan si gajah duduk telah habis. Oleh karena itu, kini beginilah Tiwi, mahasiswa sastra yang terhipnotisa dalam dunia sastra bahasa teknologi, bahasa komputer yang hanya terdiri dari angka “nol” dan “satu”.
Ratna, mungkin ia sosok mahasiswa yang kebanyakan tergambar di benak masyarakat-masyarakat awam. Aktifis, begitulah orang-orang menyebutnya. Kegiatan himpunan, ormawa tingkat universitas, serta UKM adalam makanan sehari-harinya, tak heran jika Ratna lah yang paling sering absen dalam kuliah “gosip” ini, dengan alasan, “aduh, gw musti ketemu Rektor nie”, “Sory, gw harus dateng rapat dengar sama ketua senat” dan bla bla bla...Tapi jangan mengira Ratna adalah mahasiswa doyan demo dan aksi bakar ban di gedung pemerintahan atau DPR, Ratna adalah aktivis yang sangat anti tindakan-tindakan seperti itu, “capek”, katanya. Ratna adalah pelopor jalur diplomasi di kampus kami yang dulu terkenal dengan aksi demo. Maka nama Ratna memang cukup santer terdengar di telinga para mahasiswa, bahkan melebihi ketua senat sekalipun.aku sendiri tak tahu nama ketua senat kampusku siapa..xixixixiii..jangan di tiru ya!
Satu yang terlihat asik dengan telepon genggamnya, sejak kuliah usai tiga puluh menit yang lalu si mungil telepon genggamnya tak lepas menempel dari telinga kanannya. Sesekali wajahnya tersenyum, kemudian sedikit terlihat sedih, namun tak lama ia tertawa terbahak-bahak. Ini lah Astie si miss ring-ring, selain saat kuliah aku tak tahu kapan telepon genggamnya akan terlepas dari telinga kananya. Tahukah kalian siapa yang ditelpon Astie? Tentu saja seoramg sosok “pangeran” bagi Astie, “suami ku” begitulah Astie menyebutnya. Hidupnya bagaikan Serial komik remaja perempuan, begitu romantis, terkadang bercampur sedikit komedi, dan tentu saja, impian Astie adalah menjadi seorang pengantin yang cantik.
Kini mari kita lihat dipojokan sana kawan, dialah korban keganasan kami, Tria. Tria adalah sosok akhwat diantara kami. Entah tersesat atau apa, Tria yang (mungkin) seharusnya berada di tengah-tengah para akhwat kini ia terdampar di tengah-tengah wanita tukang rumpi dan doyan sopping seperti kami. Tria pun satu-satunya diantara kami yang orang luar pulau Jawa. Logat bahasa Indonesianya yang sedikit melayu terkadang menjadi bahan tertawaan kami. Apalagi kalau Tria mulai memaksakan berbicara bahasa Sunda, layaknya keracunan gas tawa, kami para sahabatnya (yang kejam) tertawa seperti orang tak tahu diri. Begitulah kejamnya dunia.
Yang terakhir kawan. Sibontot diantara kami. Walau dilihat dari segi usia dia bukan yang paling muda, tapi kelakuannya memang paling bontot. Tubuhnya yang munyil serta perangai yang manja membuat Ima memang pantas kami sebut bontot. Wajahnya inocent, tampa dosa. Kata-katanya sering ceplas ceplos layaknya anak kecil. Tapi percayalah kawan, diantara kami dialah yang paling bersih. Ima lah yang paling polos, aku yang sangat usil ini terkadang mengangat tubuh Ima dan hampir memasukannya ke dalam tong sampah. Haha..sungguh kejam..
Jumat, 25 Februari 2011
Langganan:
Postingan (Atom)
