Senin, 26 Desember 2011

perjalana mimpi 40hari "Jakarta hingga Osaka"

"Aku ke Jepang Bang!!!" teriakku yang begitu senang pada seorang teman KKN ku di atas motor. Aku menerima telpon dari ayahku yang memberitahukanku bahwa aku lolos seleksi untuk mengikuti pelatihan bahasa dan budaya selama kurang lebih enam minggu di Osaka Jepang. Teman KKN ku yang tak tahu apa-apa itu bingung, "Ke Jepang apaan??kita ini dari Pasar mau ke Posko!". Aku yang terlalu senang tak memperdulikan kata-katanya. "Pokoknya aku akan ke jepang" gumamku dalam hati dan tersenyum-senyum sepanjang perjalanan saat itu. Berikut, izinkan aku bercerita melalui foto-foto dan rekaman kisah yang terekam sedikit dalam otakku. entah menarik atau tidak, aku hanya ingin bercerita. tak ada unsur ingin sombong atau apapun kawan, aku hanya ingin berbagi mimpi :)
Delapan belas Oktober 2011, aku hampir tak percaya. aku dan seorang rekan perjalananku Samsul Maarif seorang mahasiswa Universitas Padjajaran Bandung kini berada di ruang tunggu keberangkatan pesawat Garuda menuju Bandara Internasional Kansai yang sebelumnya akan transit dulu di denpasar Bali. Kami hanya mengobrol ringan untuk sedikit mengurangi rasa gugup kami, masih tak percaya kami akan pergi menuju negri yang selama ini menjadi mimpi kami berdua. Pukul lima lebih empat puluh lima sore, pesawat kami take off dan tiba di denpasar pukul delapan malam waktu setempat. Kami berdua bertemu dengan dua lagi rekan perjalanan, Dewi Sharaswati dari Universitas Hasanudin Makasar dan Pijar Raisanisa Dari Universitas Gajah Mada.
Waktu menunjukan pukul sembilan malam. Kami terkatung-katung di bandara internasional Ngurahrai Bali. Pesawat kami baru akan take off pukul 1 malam. chek In pun baru bisa jam dua belas. Diluar bayangan ku, Bandara Ngurahrai Bali bukanlah bandara yang lebih baik dari bandara Sukarno Hatta di Ibu kota sana. Bandara yang cukup bisa dibilang kecil dengan kebanyakan turis asing berlalu lalang di dalamnya. "Bule Darake!" gumamku dalam hati. Entah karena Bule-bule dan orang asing itu yang "sudah terlalu terbiasa" dengan kebiasaan masyarakat Indonesia, entah karena pengelola bandara setempat yang kurang dapat menyediakan fasilitas kursi di tempat tunggu pemberangkatan pesawat, para bule-bule dan orang asing lainnya, duduk di lantai dengan cueknya sudah sangat seperti orang indonesia.
Entah kenapa aku mengunggah foto ini. Yang pakai Jilbab itu temanku dari Universitas Hasanudin Makasar yang kemudian dipanggil Saras. Lalu yang gambarnya tak terambil sempurna adalah Samsul, atau yang nantinya akan kami panggil "usul". dari foto itu dapat terlihat jelas betapa bosannya kami harus menghabiskan waktu enam jam empat puluh lima menit di dalam pesawat tanpa bisa beranjak ke mana-mana. ditambah lagi peristiwa "pesawat harus kembali ke Bandara Denpasar Bali" setelah pesawat take off selama satu jam. kami hanya diberitahukan bahwa pesawat mengalami kerusakan listrik dan hanya bisa diperbaiki di bandara denpasar. dan setelah menguping beberapa obrolan petugas bandara, ternyata kerusakan yang terjadi mengakibatkan pesawat tidak dapat menghangatkan makanan untuk para penumpang. Awalnya kami tertawa-tawa dalam hati, hal sepele seperti itu membuat kami yang sudah take off selama satu jam harus kembali lagi ke Denpasar. Tapi kalau dipikir-pikir lagi, penumpang pasti akan kecewa berat dan kelaparan jika tidak diberi snack tengah malam dan sarapan pagi. Aku, ketiga teman perjalananku dan penumpang lainnya yang kebanyakan orang jepang kembali terkatung-katung di bandara selama lebih dari satu jam. waktu kedatangan kami di bandara internasional kansai pun tertunda hingga hampir 3 jam, yang seharusnya kami sampai pukul delapan pagi waktu Jepang, namun kami baru tiba pukul sebelas siang waktu Jepang. ;)

Kamis, 23 Juni 2011

Bagiku, Mahasiswa Mahluk Terunik di Dunia!! (Part 2)

Jika pada bagian sebelumnya ku coba sedikit menceritakan pandangan beberapa orang terhadap mahasiswa, kini aku akan sedikit berbagi cerita tentang apa yang aku lihat dengan mata kepalaku sendiri.
Mahasiswa sangat beragam. setiap personal pasti memiliki karakter yang berbeda-beda, tentunya juga dengan mahasiswa. Namun kadang ada karakter-karakter tersendiri yang melekat pada mahsiswa tergantung pada perguruan tingginya. Hal tersebut menjadi karakter tersendiri yang unik terhadap masing-masing perguruan tinggi tersebut.

Di sini aku tak akan membahas universitas atau mahasiswa universitas lain kawan. Kan ku ceritakan tentang kampusku. terutama mahasiswanya. ;)

kampusku adalah sebuah universitas keguruan negri di Bandung. Mungkin terkadang orang memandang kampusku sebagai universitas "kelas dua". entahlah, mungkin karena profesi guru dan gaji guru indonesia yang tak seberapa membuat kamupusku ini peminatnya tak sebanyak universitas gajah duduk.

Di kampusku ada 6 fakultas yang memiliki kesan yang berbeda-beda jika dilihat dari mahasiswanya.
Mulai dari fakultas ilmu eksak, fakultas ini dipenuhi oleh "akhwat dan ikhwan" kira-kira begitu yang terkesan. anak-anak di fakultas ini terkesanpaling religius jika dilihat dari pakaian mereka. Seringkali disebut "Mesir" nya kampus. Gara-gara pakaiannya kali ya..berasa di negri timur tengah *lebay :P
Yang ke dua fakultas kebanggaan kampusku. Fakultas yang menjadi ciri dari kampus kami apa la

Senin, 30 Mei 2011

Bagiku, Mahasiswa Mahluk Terunik di Dunia!! (Part 1)

"Mahasiswa" dengan kata "Maha" yang menempel sebelum kata "Siswa" membuat para remaja akhir menjelang dewasa awal ini mendapat predikat yang beragam dari masyarakat. Seperti kata guru ku di SMA, Mahasiswa bukanlah siswa biasa melainkan siswa yang luar biasa, "Namanya juga maha!", tukas salah seorang guru SMA ku itu.
Kemudian bagi para rakyat kecil jalanan yang kebanyakan dicekoki tayangan berita di warung-warung kopi pinggir jalan, mahasiswa dianggap tukang demo. Ya mungkin seperti itu yang sempat ku dengar dari obrolan santai para supir angkot yang sedang santai memonton siaran berita dari sebuah tv kecil 14 inci di warung kopi sambil menunggu penumpang memenuhi mobil hijau jurusan Caheum-Ledeng sumber penghasilannya. "Ah, neng mahasiswa mah demo wae di gedung sate teh..macet deui, macet deui..mahasiswa teh siga si komo nya (Ah, Mahasiswa itu selalu saja demo di gedung sate..macet lagi, macet lagi..Mahasiswa seperti si Komo saja!) !" tukas seorang supir angkot pada ku yang kebetulan duduk di bangku depan samping pak supir. Aku hanya tersenyum kecil, saat itu aku masih duduk di bangku SMA dan tak mau komentar apa-apa karena aku belum tahu betul bagaimana rasanya jadi mahasiswa. Sempat terpikir oleh ku yang masih sangat polos saat itu, apakah aku pun akan merasakan yang namanya berdemo ya? berjalan ke gedung sate sambil membawa sebuah spanduk besar bertuliskan aspirasi, berteriak-teriak, memenuhi badan jalan, kemudian mungkin diamankan oleh petugas polisi karena tindakan demo kami mulai anarkis.
kini bagian terfaforitku. ahahaha..entahlah apakah cara pandang ini dapat mewakilkan mereka atau hanya menurut cara pandangku saja pada saat itu. ya, cara pandang siswa SMP dan SMA.hmmm.. mungkin lebih tepatnya siswi-siswi SMP dan SMA :p. Pikirku saat itu mahasiswa adalah sosok yang keren dan sepertinya sangat asik jadi seorang mahasiswa. Tak perlu memakai seragam ke sekolah,artinya bisa bergaya sesuai karakter masing-masing, bisa pakai baju yang di suka asal tak melanggar peraturan kampus. Ditambah lagi tak perlu membawa buku banyak-banyak dan berat ke kampus, mahasiswa hanya perlu membawa buku catatan kecil, laptop, dan alat tulis. lalu..lalu..ya! Katanya jadwal kuliah bisa di atur dan tak sepadat anak sekolahan (SMP dan SMA). "Enak banget!" kataku sa'at masih duduk di bangku SMA, namun persepsi itu langsung ku bantah begitu merasakan jadi mahasiswa yang sesungguhnya. Ternyata jadi mahasiswa itu tak semudah dan sesantai yang ku bayangkan sebelumnya. Hmm...Oh iya, ada 1 lagi anggapan ku tentang mahasiswa pada saat itu! Mahasiswa itu keren!! Sekolah SMA ku yang letaknya bisa dikatakan bersebelahan dengan sebuah Pergiruan tinggi paling beken seAntero NKRI ini, siswa-siswanya setiap hari selalu disuguhkan pemandangan mahasiswa-mahasiswa genius, dan pilihan dari seantero NKRI pula. entah mengapa, para siswa yang masih polos-polos ini ketika melihat mahasiswa dari institut tehnik negri gajah duduk itu akan terpesona walaupun penampilan mahasiswa itu tak terlalu baik (baca: berantakan).
Sebenarnya masih banyak cara pandang dan pendapat masyarakat yang bisa ku ceritakan di sini, tapi mungkin aku membutuhkan waktu satu minggu penuh untuk menulisannya di sini. Namun ada satu yang membuatku sedikit terteguh. Saat itu aku dan keluargaku sedang pulang kampung ke kampung ayahku, sebuah kota kecil di Jawa tengah. Walau kampung, tapi kampung ayahku sebenarnya tidak terlalu terpencil jika dilihat dari jumlah penduduk dan fasilitas yang sudah tersedia di sana. hanya saja di sana memang masih sangat banyak masyarakatnya yang berada dalam tingkat ekonomi yang sangat lemah. Saat itu aku diajak ayahku mengunjugi salah seorang pengasuhnya waktu kecil (mungkin kalau sekarang disebut "baby sitter").Dengan kemampuan Bahasa Jawaku yang "nol", aku bebusaha berbincang sedikit dengannya, saat tahu aku adalah seorang mahasiswa, betapa terkagum-kagumnya dia. setidaknya itu yang dapat ku lihat dari air mukanya. ditambah lagi dengan komentarnya, "Jan mahasiswa! mesti dadi wong huebat (Wah mahasiswa, pasti jadi orang hebat)!", wah..wah..wah..sampai seperti itu wanita yang hampir semua rambutnya sudah memutih itu memujiku. Dalam hatiku, "Ah nek, mahasiswa belum tentu jadi orang hebat..."

Jumat, 25 Februari 2011

Dimulai di pagi yang cerah..

tuktuktuk...Suara langkah kaki ku menuruni anak tangga degan tergesah-gesah,seperti biasa menghiasi suara-suara di rumahku yang memang sedang sibuk memulai aktivitas di pagi hari. Mama seperti biasa membantu adikku si bontot yang susah bangun, menyiapkan segala macam keperluan sekolahnya. Ayah ku yang sedari tadi asik membaca koran pagi dengan cara memakai kaca matanya yang unik -hingga nampak seperti paman gober- terusik melihat tingkahku,「座りながらちゃんと食べなさい!」(makannya yang bener sambil duduk) ucapnya sambil menatap ku.
「もう六時半、ワワン先生の授業だよ!遅刻したら入れない~」(udah setengah tujuh nie pah, kuliahnya Wawan sensei, klo telat ga boleh masuk), jawabku yang mencari pembenaran.
"Siapa suruh di bangunin susah, kamernya udah diberesin belum? tuh buku2nya juga." ini omelan mama ku yang sudah tak asing lagi -hanpir setiap hari- ku dengar.
"iya, udah mah, kasurnya." jawab ku asal.
Segera ku telan sepotong roti yang telah disiapkan mama, tak lupa segelas susu coklat hangat kesukaanku. Harus minum susu yang banyak biar gemuk! Hihihi..
Sudah kurang lebih satu semester ini aku meninggalkan Russian Blue si tunggangan sejatiku. Nampaknya udara kotor jalan raya kurang cocok denganku. Hanya sesekali saja ku pakai jika uang saku ku tak cukup banyak untuk membayar ongkos angkutan umum yang semakin mahal saja.
Sebagai mahasiswa aku terbilang enak. Tak perlu kost, jarak rumah jika ditempuh dengan kendaraan pribadi hanya sekitar lima belas menit. Ayahku adalah dosenku. Haha, ya aku kuliah dimana tempat ayahku mengajar. Pulang pergi kuliah aku diantar ayahku. Nyaman dengan mobil, yak perlu menghirup udara kotor jalan raya!
Mahasiswa, apa yang ada di benak kalian ketika mendengar kata itu? Kata guruku di SMA dan dosen-dosenku, Mahasiswa adalah siswa yang istimewa, pelajar yang istimewa! Lihat saja kata “MAHA” yang tertera sebelum kata “siswa” itu, nampak sangat istimewa bukan? Ya mengingat umur kami para mahasiswa yang sudah dewasa dan seharusnya memang memiliki pemikiran yang dewasa juga, belajar seharusnya sudah menjadi sebuah kebutuhan untuk menghadapi dunia masyarakat.
Tapi, lihatlah ini kawan, Pagi ini kuliah seharusnya dimulai pukul tujuh pagi, bahkan aku sempat sedikit berlari menuju kelas karena takut terlambat mengikuti kuliah. Meski kelasku dikatakan kelas “si unggul” tapi, walau jarum-jarum jam tanganku telah menunjukan pukul tujuh kurang lima menit, tak sampai sepuluh orang yang telah hadir di kelas. Sisanya, baru akan berbondong-bondong datang pukul tujuh lewat lima sampai sepuluh menit dengan alasan kena macet, padahal sebagian besar dari mereka adalah mahasiswa kos-kosan yang tentunya takkan terpengaruh dengan kemacetan lalu lintas. Katanya, “mahasiswa harus pintar (berbohong)”.
Usai kuliah pagi, seperti biasa aku dan teman-teman (gank) ku melakukan kuliah tambahan. Begitulah istilah kami, jangan kau bayangkan ini adalah kuliah yang benar-benar kuliah kawan! Kami menyebutnya kuliah tambahan mata kuliah “gosip” di ruang kelas “kopma” dengan bobot “lima sks”. Luar biasa bukan? Mari kukenalkan para mahasiswa yang mengontrak mata kuliah ini.
Yang pertama adalah Novi, mahasiswa pecinta uang. Uang adalah hidupnya dan hidupnya adalah uang. Profesi sampingannya adalah sebagai penjual pulsa berjalan, kata-kata favoritnya adalah, “bayar pulsa ga lo!!”, tentunya dengan tatapan penuh ancaman. Kemudian kau tahu Mr. Crabb? Ya, salah satu karakter kikir dalam serial kartun Spongebob Square Pants itu adalah pujaannya, terkadang Novi akan terlihat terpesona ketika menonton aksi Mr. Crabb di TV, bahkan ia akan sesekali mengangguk-anggukan ketika Mr. Crabb melakukan aksi super kikirnya. Tapi seperti Novi ini ternyata cukup menarik perhatian temanku yang sering mengaku sebagai kuda. Sudah sekitar lima bulan Nugraha si kuda menjalin hubungan dengan Novi. Tapi tentu saja cinta sejati Novi tetap lah uang, kalau temannya saja rela ia tukar dengau uang, tentu saja si Kuda ini pun harus bersiap-siap untuk di gadaikan..hahaha, tidak kawan, tentu aku haya bercanda!
Yang disamping Novi adalah Julie, dengan tubuhnya yang memang cukup gempal tak membuat ia kehilangan sosok manisnya. Julie adalah tipe mahasiswi yang menjadi fans sebuah boyband asal negri gingseng. Ya seperti gadis lainnya yang menjadi fans artis tertentu, mulai dari kaos yang ia pakai, gantungan kunci, gantungan handpone, pin, bros, buku catatan, pinsil, tempat pinsil, isi handpone, isi laptop, isi kosan, pokonya semua-muanya hanya akan mengenai boyband favoritnya itu. Julie adalah tipe yang akan rela merogoh koceknya dalam-dalah, ah tidak, bahkan terlalu dalam untuk dapat menjadi fans sejati boyband pujaannya itu.
Kini sedikit menyebrang di depan ku, dia sosok yang selalu terlihat mengantuk. Nisa namanya, entah mengapa dia selalu menguap, disaat ada kesempatan Nisa selalu menyempatkan diri untuk sedikit berkelana ke alam bawah sadarnya. Kekasihnya adalah sebuah bantal kecil yang ia bawa kmana pun ia pergi. Entah aku harus menggolongkan dirinya ke golongan mahasiswa yang mana. Sebab, mahasiswa yang membawa bantal kemanapun ia pergi barulah Nisa yang kutemukan, heum..mungkin dia termasuk ke dalam spesies langka yang perlu dilestarikan.xixixixixi..
Jika ada Nisa yang memiliki kekasih sebuah bantal kecil yang selalu ia bawa kemanapun ia pergi, maka ada pula sosok Tiwi yang memiliki kekasih sesosok laptop yang selalu tampak mesra dengannya. Tiwi adalah korban salah pilih jurusan. Ia memang mendambakan jurusan ilmu komputer atau teknologi informatika, namun apa boleh dikata, universitas gajah duduk yang didambakannya itu kursinya telah sould out diborong siswa SMA genius dari berbagai penjuru negeri, dan Tiwi tak diijinkan membawa kursi sendiri dari rumah jika alasannya kursi yang disediakan si gajah duduk telah habis. Oleh karena itu, kini beginilah Tiwi, mahasiswa sastra yang terhipnotisa dalam dunia sastra bahasa teknologi, bahasa komputer yang hanya terdiri dari angka “nol” dan “satu”.
Ratna, mungkin ia sosok mahasiswa yang kebanyakan tergambar di benak masyarakat-masyarakat awam. Aktifis, begitulah orang-orang menyebutnya. Kegiatan himpunan, ormawa tingkat universitas, serta UKM adalam makanan sehari-harinya, tak heran jika Ratna lah yang paling sering absen dalam kuliah “gosip” ini, dengan alasan, “aduh, gw musti ketemu Rektor nie”, “Sory, gw harus dateng rapat dengar sama ketua senat” dan bla bla bla...Tapi jangan mengira Ratna adalah mahasiswa doyan demo dan aksi bakar ban di gedung pemerintahan atau DPR, Ratna adalah aktivis yang sangat anti tindakan-tindakan seperti itu, “capek”, katanya. Ratna adalah pelopor jalur diplomasi di kampus kami yang dulu terkenal dengan aksi demo. Maka nama Ratna memang cukup santer terdengar di telinga para mahasiswa, bahkan melebihi ketua senat sekalipun.aku sendiri tak tahu nama ketua senat kampusku siapa..xixixixiii..jangan di tiru ya!
Satu yang terlihat asik dengan telepon genggamnya, sejak kuliah usai tiga puluh menit yang lalu si mungil telepon genggamnya tak lepas menempel dari telinga kanannya. Sesekali wajahnya tersenyum, kemudian sedikit terlihat sedih, namun tak lama ia tertawa terbahak-bahak. Ini lah Astie si miss ring-ring, selain saat kuliah aku tak tahu kapan telepon genggamnya akan terlepas dari telinga kananya. Tahukah kalian siapa yang ditelpon Astie? Tentu saja seoramg sosok “pangeran” bagi Astie, “suami ku” begitulah Astie menyebutnya. Hidupnya bagaikan Serial komik remaja perempuan, begitu romantis, terkadang bercampur sedikit komedi, dan tentu saja, impian Astie adalah menjadi seorang pengantin yang cantik.
Kini mari kita lihat dipojokan sana kawan, dialah korban keganasan kami, Tria. Tria adalah sosok akhwat diantara kami. Entah tersesat atau apa, Tria yang (mungkin) seharusnya berada di tengah-tengah para akhwat kini ia terdampar di tengah-tengah wanita tukang rumpi dan doyan sopping seperti kami. Tria pun satu-satunya diantara kami yang orang luar pulau Jawa. Logat bahasa Indonesianya yang sedikit melayu terkadang menjadi bahan tertawaan kami. Apalagi kalau Tria mulai memaksakan berbicara bahasa Sunda, layaknya keracunan gas tawa, kami para sahabatnya (yang kejam) tertawa seperti orang tak tahu diri. Begitulah kejamnya dunia.
Yang terakhir kawan. Sibontot diantara kami. Walau dilihat dari segi usia dia bukan yang paling muda, tapi kelakuannya memang paling bontot. Tubuhnya yang munyil serta perangai yang manja membuat Ima memang pantas kami sebut bontot. Wajahnya inocent, tampa dosa. Kata-katanya sering ceplas ceplos layaknya anak kecil. Tapi percayalah kawan, diantara kami dialah yang paling bersih. Ima lah yang paling polos, aku yang sangat usil ini terkadang mengangat tubuh Ima dan hampir memasukannya ke dalam tong sampah. Haha..sungguh kejam..